Angin

To run where the brave dare not to go

Buruh

Di abad pertengahan, Eropa berada pada titik nadirnya. Kemunduran peradaban, kemanusiaan yang tercabik-cabik, keadilan yang tercampakan, serta kemiskinan yang merajalela ditudingkan kepada kelaliman penguasa yang bersenyawa dengan gereja. Tuan tanah dan para bangsawan yang mengisap rakyat jelata diberi stempel kebenaran dan cap bebas dosa oleh gereja. Kaum cendekia tidak tinggal diam, sebagian sejarawan juga menisbatkan kaum cendekia ini sebagai bagian dari gerakan freemason/ illuminati entah versi sejarah mana yang benar, mereka berpikir menggerakan dan mencerahkan masyarakat eropa dengan ide-ide baru. Kebebasan (liberalisme), kemanusiaan (humanisme), serta pemisahan gereja dari masyarakat (sekulerisme) menjadi benang merah pemikiran yang berkembang saat itu.

Pemikiran terus tumbuh, mekar menjadi pergerakan, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. Hingga mencapai buahnya pada revolusi-revolusi di Eropa yang mengakhiri kediktatoran feodalisme dan gereja. Dan kini cahaya pencerahan (renaissans) menyalakan eropa dengan kebebasan dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Mulai dari ilmu alam dasar hingga teknologi tepat guna.

Mesin uap ditemukan sebagai tonggak revolusi Industri yang mendorong penemuan mesin-mesin lainnya. Cara manusia berproduksi pun mengalami loncatan eksponensial dalam kapasitasnya. Untuk memenuhinya maka Eropa membutuhkan faktor-faktor produksi yang berlipat-lipat: tanah, bahan baku, dan manusia. Untuk menjual hasil produksi yang berlimpah itu pula Eropa tidak cukup lagi. Butuh tanah, bahan baku, dan manusia baru untuk menggerakan mesin-mesin agar tetap berputar. Butuh pula pasar baru untuk bisa menjual hasil produksi. Manusia yang serakah makin serakah. Imperialisme menjadi pemuas keserakahannya. Penduduk-penduduk di timur jauh maupun timur dekat yang tak tahu entah mengapa pun menjadi korbannya. Dirampok tanahnya, diperas keringatnya, dikangkangi kebebasannya.

Imperialisme bukan cuma satu turunan dari revolusi industri ini. Tak cuma manusia berkulit berwarna merasakan getir, tapi juga manusia berkulit pucat di jantung peradaban, pusat pencerahan dan ilmu pengetahuan, serta kemajuan industri lah yang merasakan penderitaan akibat keserakahan ini. Kapitalisme pun menjadi landasan konsep bagi industrialisasi yang sedang dibangun. Eropa mengalami permasalahan yang serius dalam hal lingkungan, demografis, kesejahteraan, kesehatan, dan kriminalitas sekaligus. Sistem produksi lama yang mengandalkan pertanian dan peternakan berubah drastis. Penduduk desa berduyun-duyun hijrah ke kota mendapat pekerjaan baru. Akibatnya desa-desa menjadi terbengkalai. Seiring penumpukan manusia dan munculnya pabrik-pabrik baru, kota-kota mengalami problem urban yang tipikal; kerusakan lingkungan, munculnya daerah kumuh, penyakit masyarakat, kriminalitas, dan sebagainya. Para pekerja mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Buruh anak, upah rendah dan jam kerja belasan jam sehari. Masyarakat jelata tidak punya pilihan lain selain bekerja pada tuannya karena kini semua faktor produksi telah dikuasi pemilik modal.

Timbullah kelas baru yang namanya kelas pekerja, buruh, atau proletar yang ditindas oleh pemilik modal, industrialis, kapitalis, atau pun borjuis, apa pun sebutannya. Tak ada yang beda dan berubah dari dulu ditindas sebagai rakyat jelata oleh bangsawan, kaum feodal, atau gerejawan. Kini namanya bukan lagi rakyat jelata tapi kaum proletar yang ditindas oleh borjuasi. Masih penindasan yang sama, masih kedzaliman yang sama, hanya berganti nama korban dan pelakuya saja.

Dengan latar seperti inilah ide-ide perlawanan terhadap kapitalisme mendapatkan konteksnya. Karl Marx mencurahkan empati kepada nasib kaumnya yang tertindas menjadi serangkaian ide dalam Das Kapitalis. Berisi kritik terhadap keserakahan kapitalis dalam penguasaan faktor produksi dan penumpukan modal dan kekayaan. Polarisasi kelas di masyarakat menjadi kelas proletarian dan borjuasi. Hubungan antar kelas. Gambaran ideal tentang masyarakat tanpa kelas di mana modal dan faktor-faktor produksi menjadi milik bersama: ialah masyarak komunis yang berarti komunal, bersama, sama-sama, sama rata sama rasa. Apapun itu gagasan Karl Marx ialah perlawanan, penolakan, dan kemarahan. Pemikirannya sekedar menjadi landasan pikir bagi kemarahan dan perlawanan yang terus berkembang menjadi gerakan politik hingga akhirnya menjadi sebuah negara Uni Sosialis Sovyet Rusia (USSR). Sekedar reaksi, antitesis, dan penolakan terhadap realita yang ada. Dalam cakrawala inilah ideologi sosialisme komunisme tumbuh.

Happy Capitalism

Happy Capitalism

Bangunlah kaum jang terhina,

Bangunlah kaum jang lapar.

Kehendak jang mulja dalam dunia.

Senantiasa tambah besar.

Lenjapkan adat dan faham tua

kita Rakjat sadar-sadar.

Dunia sudah berganti rupa

Untuk kemenangan kita.

Perdjoangan penghabisan,

Kumpullah melawan.

Dan Internasionale

Pastilah di dunia.

(L’Internationale – Mars Komintern,

diterjemahkan oleh Ki Hadjar Dewantara pada 1920)

Bandung, 24 Mei 2012, Selamat Hari Buruh Sedunia!
Mayday.. Mayday..Mayday..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 15, 2014 by in Politik dan Ekonomi.
%d bloggers like this: