Angin

To run where the brave dare not to go

[Catatan di Media] Ridwan Kamil dan Gelombang Baru Kepemimpinan Indonesia

Bersyukur sekali bahwa malam itu saya bersama Kang Deden dan Kang Asep dari Paguyuban Sunda Nederland memiliki kesempatan untuk bertemu langsung walikota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil) di sela-sela padatnya jadwal kegiatan beliau. Bayangkan dalam enam hari mereka harus menempuh perjalanan di 3 negara dan 8 kota, serta menjalankan 12 agenda.

Agenda-agenda tersebut di antaranya adalah kesepakatan dana CSR dari beberapa perusahaan di Belanda dan Perancis senilai 1.7 T, penjajakan ke perusahaan H-Bahn atau monorail gantung di Jerman, pendandatanganan kerja sama dengan konsultan terkemuka PriceWaterhouseCooper untuk menjadi mitra kota Bandung, kerjasama kebudayaan dengan pemerintah Perancis, serta berpartisipasi di pameran wisata Utrecht di mana 150 orang langsung memesan wisata ke Bandung.

Belum termasuk agenda yang sifatnya informal seperti pertemuan dengan kami, PPI Belanda, PPI Perancis, serta Jejaring Diaspora Indonesia di Belanda. Jangan dibayangkan jika itu semua dilakukan dalam satu rombongan kerja yang besar. Kang Emil hanya ditemani 2 orang staf ahli dan 1 orang asisten pribadi. Mirip dengan satu regu pasukan elit yang bekerja cepat, senyap, dan mematikan.

Kang Emil menceritakan mimpinya untuk menjadikan Bandung liveable and loveable city. Dan saat ini tantangan Bandung adalah infrastruktur, pelayanan public, serta pola pikir dan kebiasaan warganya. Sebelum mengakhiri pertemuan kami baru tahu bahwa Kang Emil dan rombongan bahkan nyaris tidak punya waktu untuk jalan-jalan dan belanja oleh-oleh. Mereka hanya punya waktu dua jam esok untuk belanja dan refreshing sejenak di Amsterdam sebelum pulang ke Bandung.

Menjadi Hati, Kepala, dan Tulang Punggungnya Bandung

Kang Emil adalah bagian dari gelombang baru kepemimpinan Indonesia yang muncul dari daerah yang sama-sama memiliki ciri meritokratis yaitu progresif, mengandalkan kinerja bukan pencitraan, serta gaya kepemimpinan yang egaliter dan dekat dengan rakyat bukan kepemimpinan feodal dan berjarak. Sebelumnya kita mengenal kepemimpinan serupa seperti pada sosok Bu Risma di Surabaya, Pak Jokowi di Solo, atau Bu Rustriningsih di Kebumen.

Saya mencatat ada tiga hal yang menjadi kunci bagaimana Kang Emil kini menjadi sosok yang amat dicintai oleh warganya. Pertama, memimpin ialah menjadi hatinya masyarakat. Saya rasa tak akan orang yang sanggup bekerja sekeras itu jika bukan didorong oleh niat yang ikhlas berbuat untuk masyarakat. Salah satu Hadits yang sering dikutip oleh Kang Emil adalah “Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat untuk sesamanya”.

Selain keikhlasan, cinta adalah energi tak terbatas yang menjadikan seorang pemimpin rela mengorbankan kepentingan diri dan keluarganya untuk kebaikan masyarakat. Dengan cinta lah seorang pemimpin akan sanggup terjaga hingga larut dalam menunaikan kewajibannya. Dengan cinta, tak akan terlintas di benak seorang pemimpin untuk menzalimi hak warganya.

Saya teringat ucap Kang Emil mengenai cintanya pada Bandung, “buat saya Bandung bukan sekedar tempat, tetapi perasaan”. Barangkali ini adalah alasan mengapa Kang Emil masih aktif menjawab mention-mention di twitter. Nampaknya buat ia menyapa warganya bukanlah kewajiban apalagi beban melainkan adalah sebuah kebutuhan, seperti orang yang sedang kasmaran.

Kedua, memimpin ialah menjadi kepalanya masyarakat. Kepala adalah simbol dari akal, kecerdasan, dan efektifitas. Kecerdasan kang Emil bisa terlihat dari bagaimana ia gesit memanfaatkan jejaringnya dalam mencari sumber-sumber pendanaan alternatf di luar APBD. Karena sekedar menggunakan dana yang ada tidak akan cukup dalam mewujudkan rencana-rencananya. Turun ke lapangan adalah hal yang penting, tetapi belum cukup. Seorang pemimpin hendaknya mengetahui titik-titik ungkit (leverage) di mana dengan satu usaha yang sama bisa menghasilkan keluaran berkali-kali lipat. Di sini pentingnya kompetensi dan membangun tim.

Beruntung Bandung memiliki pemimpin seperti Kang Emil yang bukan hanya menjabat walikota namun juga berlatar belakang tata kota (urban design). Bagaimana jika seorang pemimpin tak memiliki kompetensi teknis di bidangnya, karena tak mungkin ada pemimpin yang menjadi spesialis dalam semua hal. Maka kuncinya ada di pilihan siapa yang menjadi orang-orang terdekatnya.

Bersiaplah sejak awal untuk mengakhiri jabatannya dengan kegagalan jika orang-orang yang ia pilih ialah sekedar tim hore yang bermental asal bapak senang, penjilat, dan bermuka dua. Kita seringkali melihat pemimpin sebagai seorang sosok, padahal titik paling krusial dari sebuah kepemimpinan adalah seberapa baik timnya. Mereka haruslah orang yang kompeten, sevisi, dan tentu saja berintegritas bahkan berani mengatakan pendapat berbeda.

Oleh karena itu saya pun bisa memahami mengapa Kang Emil memilih maju sebagai walikota melalui partai politik, padahal jika mau bisa ia maju dari jalur independen. Dan peluangnya untuk menang tetap sangat besar. Keputusan Kang Emil untuk maju lewat parpol justru melawan sentimen masyarakat yang sedang dalam puncak ketidakpercayaan terhadap parpol.

Di sini lah kecerdasan kang Emil dalam memahami kondisi dan tak sekedar ikut-ikutan sentimen dan tren. Memang maju sendirian adalah pilihan yang menyenangkan dan bisa terbebas dari deal-deal politik yang bisa membebani. Tetapi memperbaiki keadaan bangsa ini tak bisa sendirian, harus berkolaborasi. Mengingat latar belakangnya yang akademisi dan professional, tentu saja dibutuhkan tim yang mengerti betul urusan pengambilan kebijakan dan birokrasi. Kang Emil menyadari itu dan menjatuhkan pilihannya pada partai yang bisa ia percayai.

Terakhir, memimpin ialah menjadi tulang punggungnya masyarakat. Pada akhirnya semua rencana, kolaborasi, dan kepemimpinan kolektif harus diwujudkan dalam kerja. Kang Emil memberi contoh bagaimana pemimpin juga harus memperhatikan yang detail dan konkret. Misalkan program-program tematik harian kota Bandung yaitu; Senin Bis Gratis, Selasa Tanpa Rokok, Rebo Nyunda, Kamis Inggris, dan Jumat bersepeda. Bagi saya sebetulnya ini bukan program yang strategis dan krusial. Namun pesan yang penting ialah semua warga bandung merasa terlibat dalam membangun kotanya, serta dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang baik lah hal yang besar bisa dicapai.

Terakhir, saya tidak percaya sosok seperti Kang Emil merupakan ratu adil atau juru selamat yang turun dari langit. Kang Emil adalah pemimpin yang tumbuh bersama masyarakat. Menjadi bagian dari kita dan sama-sama merasakan susah senangnya. Oleh karena itu pemimpin tetap harus diingatkan dan diberi masukan. Termasuk ada satu pertanyaan yang saya lupa tanyakan pada beliau malam itu terkait apa kompensasi yang harus diberikan untuk program CSR perusahaan-perusahaan tersebut.

Bagaimanapun kang Emil adalah sosok yang sama seperti kita yang memiliki kehidupan dengan keluarga, cita-cita, dan hobinya. Yang membedakan ialah kang Emil punya mimpi yang besar untuk Bandung dan mau keluar dari zona nyamannya sebagai arsitek papan atas dan dosen di kampus elit untuk mau bobolokot ngesang beberes Bandung. Yok, siapa mau turut menjadi bagian dari gelombang baru ini?

2 comments on “[Catatan di Media] Ridwan Kamil dan Gelombang Baru Kepemimpinan Indonesia

  1. Sekar
    August 13, 2014

    Ulasannya bagus sekali. Thanks for shared, mas Rihan🙂

  2. armae
    August 15, 2014

    Merinding saya bacanya. Belakangan cuma tau sepak terjang dari media massa. Semoga dalam kesempatan kedua ke Bandung yang entah kapan, saya sebagai pendatangpun bisa merasakan manfaatnya, perbedaannya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 15, 2014 by in Politik dan Ekonomi.
%d bloggers like this: