Angin

To run where the brave dare not to go

Widji Thukul

Yang pasti ini bukan puisi dari penyair cabul macam Srengenge yang bermakmum pada kiblat “seni untuk seni”..

Mangga dikudap dengan sepenuh kesadaran:

E D A N

sudah dengan cerita mursilah?

edan! dia dituduh malingkarena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia tarohdi tempat kerja

edan!sudah diperas
dituduh maling pula
sudah dengan cerita santi?

edan!karena istirahat gaji dipotong
edan!karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang

edan!kita mah bukan sekrup

Bandung 21 Mei 1992

LEUWIGAJAH

Leuwigajah berputardari pagi sampai pagi
jalan-jalan gemetar
debu-debu membumbung
dari knalpot kendaraan pengangkut

mesin-mesin terus membangunkan
buruh-buruh tak berkamar-mandi
tidur jejer berjejer alas tikar
tanpa jendela tanpa cahaya matahari

lantai dinding dingin lembab pengap
lidah-lidah penghuni rumah kontrak
terus menyemburkan cerita buruk:
lembur paksa sampai pagi –

upah rendahjari jempol putus –
kecelakaan-kecelakaan
kencing dilarang –
sakit ongkos sendiri
mogok? pecat!

seperti nyabuti bulu ketiak
tubuh-tubuh muda
terus mengalir ke Leuwigajah
seperti buah-buah disedot vitaminnya

mesin-mesin terus menggilas
memerah tenaga murah
satu kali dua puluh empat jam
masuk – absen – tombol ditekan
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus ke pasar

Leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
cerobong asap terus mengotori langit
limbah mengental selokan berwarna

Leuwigajah terus minta darah tenaga muda
Leuwigajah makin panas
berputar dan terus menguras
tenaga-tenaga murah

Bandung – Solo 21 Mei – 16 Juni

MAKIN TERANG BAGI KAMI

tempat pertemuan kami sempit
bola lampu kecil cahaya sedikit
tapi makin terang bagi kami

tangerang – solo – jakarta kawan kami
kami satu : buruhkami punya tenaga
tempat pertemuan kami sempit

di langit bintang kelap-kelip
tapi makin terang bagi kami
banyak pemogokan di sanasini

tempat pertemuan kami sempit
tapi pikiran ini makin luasmakin terang bagi kami
kegelapan disibak tukar-pikiran

kami satu : buruh
kami punya tenaga
tempat pertemuan kami sempit
tanpa buah cuma kacang dan air putih
tapi makin terang bagi kami
kesadaran kami tumbuh menyirami

kami satu : buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa yang menggerakkannya

Bandung 21 mei 1992

SATU MIMPI SATU BARISAN

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyahsi
lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipesya dihantam tipes

juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi

dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan

kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi
di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung – solo – jakarta – tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

satu mimpi
satu barisan

Bandung 21 mei 1992

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Widji Tukul
masih hilang hingga hari ini

One comment on “Widji Thukul

  1. Maximillian
    March 3, 2014

    Nasionalisme itu ketika pemodal, pemilik modal, penghutang modal, mau membuka peluang pekerjaan untuk tetangga dan lingkungan di sekitarnya, menampung orang- orang yang sudah disekolahkan di sekolah negeri, atau menerima beasiswa dari uang pajak. Menjualnya di pasar lokal, dan membelinya pula, kalau bisa menjual di luar ya lebih bagus, dijual dengan mata uang asing yang nilai tukarnya setara, atau lebih kuat.

    Memutar mata uang keluar- masuk kantong manusia terdekat, itu nasionalisme di narasi yang paling sederhana, jual beli keahlian, jual beli kesempatan untuk hidup dengan layak, walaupun cuma sederhana saja.

    Hidup dan menghidupi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 15, 2014 by in Quotes.
%d bloggers like this: