Angin

To run where the brave dare not to go

Hatur nuhun Mang Ayi

[OBITUARI, WAAS]Almarhum Mang Ayi “Beutik” Suparman mengajarkan kita tentang totalitas. Apa pun yang kita lakukan jika dilakukan dengan sepenuh hati dan memberikan semua yang kita miliki, amal kita akan menyejarah.

Sedikit obituari tentang Mang Ayi yang pernah saya baca. Beliau adalah alumni Geodesi ITB angkatan 80’an. Saya tak hapal tepatnya. Sebagai pekerja lapangan lulusan GD-ITB tentu saja dia sudah mapan secara finansial dan bisa hidup enak. Namun pekerjaan lapangan membuat dia jauh dari Persib bahkan sekedar menonton di TV pun sulit. Saya tahu betul hal ini karena saya pun pernah menjadi Field engineer. Awal tahun 90’an Mang Ayi memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk bisa total menjadi bobotoh Persib.

Tahun 1993 dia dan beberapa sahabatnya termasuk tiga serangkai bersama kang Heru Joko dan Mang Yana Umar (aka Yana Bool) mendirikan organisasi resmi suporter pertama di Indonesia yang dinamakan Viking Persib Club. Saat ini Viking beranggotakan 80,000 orang, salah satu yang terbesar di Indonesia.

Dinamakan begitu karena diinspirasi oleh pelaut-pelaut Nordic yang pemberani dan tak gentar menjelajah kesana kemari. Barangkali ini juga mengapa bobotoh tak pernah absen dalam satu pun pertandingan tandang, kecuali jika dilarang aparat seperti derby melawan Persija/ Arema. Walau secara organisasi Viking diketuai kang Heru Joko, tapi bisa dibilang korlap dan pemimpin kultural barudak Viking adalah mang Ayi. Oleh karena itu gelar ‘panglima’ melekat kepadanya.

Mang Ayi memang memiliki kapasitas untuk itu; berani, solider, dan lugas. Memang ini menjadi karakter khas hasil ospek-nya IMG (Geodesi) ITB, hehe. Anak-anak ITB pasti ngerti lah, hehe. Sementara itu kang Heru Joko yang selalu terlihat tenang dan cermat sangat pas menjalankan peran administratur organisasi Viking dan mang Yana Bool yang ceria serta hangat memainkan peran sebagai dirijen yang memimpin chant dan yel-yel bobotoh di tribun timur Siliwangi/ SJH. Tiga serangkai inilah yang menjadi patron bobotoh hingga saat ini.

Barangkali mang Ayi adalah satu-satunya suporter yang sampai menamai anaknya dengan nama klub. Anak pertamanya dinamai Jayalah Persibku dan anak keduanya ialah Usab Perning, anagram dari Persib Banung.

Totalitas itu pasti berbuah. Kegilaannya untuk meninggalkan kemapanan pekerjaan pun digantikan dengan jalan rezeki yang lebih baik. Mang Ayi menjadi full time suporter dengan membuka usaha merchandise, menjadi host acara TV, penyiar radio, sampai menjadi sosok yang didengar oleh orang-orang Bandung dan dihormati oleh politisi, pejabat, tokoh masyarakat, hingga preman-preman.

Amal moal ngabobodo, totalitas pasti aya hasilna.. salute Mang Ayi! Leheund..

Kahatur du’a ti bobotoh Walanda:
Allahummagfirlahu warhamu wa’afihi wa’fuanhu..

Photo: [OBITUARI, WAAS] </p>
<p>Almarhum Mang Ayi "Beutik" Suparman mengajarkan kita tentang totalitas. Apa pun yang kita lakukan jika dilakukan dengan sepenuh hati dan memberikan semua yang kita miliki, amal kita akan menyejarah.</p>
<p>Sedikit obituari tentang Mang Ayi yang pernah saya baca. Beliau adalah alumni Geodesi ITB angkatan 80'an. Saya tak hapal tepatnya. Sebagai pekerja lapangan lulusan GD-ITB tentu saja dia sudah mapan secara finansial dan bisa hidup enak. Namun pekerjaan lapangan membuat dia jauh dari Persib bahkan sekedar menonton di TV pun sulit. Saya tahu betul hal ini karena saya pun pernah menjadi Field engineer. Awal tahun 90'an Mang Ayi memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk bisa total menjadi bobotoh Persib. </p>
<p>Tahun 1993 dia dan beberapa sahabatnya termasuk tiga serangkai bersama kang Heru Joko dan Mang Yana Umar (aka Yana Bool) mendirikan organisasi resmi suporter pertama di Indonesia yang dinamakan Viking Persib Club. Saat ini Viking beranggotakan 80,000 orang, salah satu yang terbesar di Indonesia. </p>
<p>Dinamakan begitu karena diinspirasi oleh pelaut-pelaut Nordic yang pemberani dan tak gentar menjelajah kesana kemari. Barangkali ini juga mengapa bobotoh tak pernah absen dalam satu pun pertandingan tandang, kecuali jika dilarang aparat seperti derby melawan Persija/ Arema. Walau secara organisasi Viking diketuai kang Heru Joko, tapi bisa dibilang korlap dan pemimpin kultural barudak Viking adalah mang Ayi. Oleh karena itu gelar 'panglima' melekat kepadanya. </p>
<p>Mang Ayi memang memiliki kapasitas untuk itu; berani, solider, dan lugas. Memang ini menjadi karakter khas hasil ospek-nya IMG (Geodesi) ITB, hehe. Anak-anak ITB pasti ngerti lah, hehe. Sementara itu kang Heru Joko yang selalu terlihat tenang dan cermat sangat pas menjalankan peran administratur organisasi Viking dan mang Yana Bool yang ceria serta hangat memainkan peran sebagai dirijen yang memimpin chant dan yel-yel bobotoh di tribun timur Siliwangi/ SJH. Tiga serangkai inilah yang menjadi patron bobotoh hingga saat ini.</p>
<p>Barangkali mang Ayi adalah satu-satunya suporter yang sampai menamai anaknya dengan nama klub. Anak pertamanya dinamai Jayalah Persibku dan anak keduanya ialah Usab Perning, anagram dari Persib Banung. </p>
<p>Totalitas itu pasti berbuah. Kegilaannya untuk meninggalkan kemapanan pekerjaan pun digantikan dengan jalan rezeki yang lebih baik. Mang Ayi menjadi full time suporter dengan membuka usaha merchandise, menjadi host acara TV, penyiar radio, sampai menjadi sosok yang didengar oleh orang-orang Bandung dan dihormati oleh politisi, pejabat, tokoh masyarakat, hingga preman-preman.</p>
<p>Amal moal ngabobodo, totalitas pasti aya hasilna.. salute Mang Ayi! Leheund..</p>
<p>Kahatur du'a ti bobotoh Walanda:<br />
Allahummagfirlahu warhamu wa'afihi wa'fuanhu..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 9, 2014 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: