Angin

To run where the brave dare not to go

RAMADHAN-RAMADHAN KAMI

Alhamdulillah, setelah sekian Ramadan berlalu dan menjalaninya sebagai perantau, tahun ini kembali bisa menjalani sebagian besar hari-hari Ramadan di rumah bersama keluarga, khususnya ayah dan ibu.

Tahun lalu berpuasa 19 jam sebulan penuh di Belanda, alhamdulillah masih bisa beraktivitas normal bahkan sepedaan 20 km PP Den Haag – Delft setiap hari dari rumah ke kampus. Buka puasa jam 10 malam ditemani siaran Piala Dunia, lanjut tarawih di masjid Maroko tengah malam hingga jam 1 dini hari, dan langsung disambung sahur karena subuhnya jam 3 pagi. Ramadhan ini juga Nada harus nge-lab di Erasmus Medical Center, mengurus tektek bengek penelitiannya tentang immunology.Ini pertama kali saya dan Nada menjalankan 30 hari full Ramadhan bersama.

Tahun sebelumnya di Amriki dalam rangka menghadiri conference System Dynamics di Boston sekaligus muhibah ke kawan-kawan baik di sana, mulai dari DC hingga ke perbatasan Kanada. Sempat merasakan tarawih di Kapel-nya Univ Harvard yang dimodif sebagai mushola dengan diimami mahasiswa Harvard yang hafidz. Sementara itu Nada sedang menyelesaikan internshipnya di RSUD Pelabuhan Ratu, alhamdulillah ada sahabat-sahabatnya segeng yang baik hati, sehingga tidak terlalu kesepian di sana.

Dua tahun berturut-turut sebelum itu, masih dalam status pekerja lapangan, menjalani shaum yang paling berat secara fisik karena dibakar panasnya udara Riau yang lembab, berpeluh di dalam coverall yang tebal dan pekerjaan yang menguras tenaga. Bedanya, Ramadhan kali ini saya sudah ada yang membangunkan, hehe. Cuma tetap saja sambil LDR karena Nada-nya sedang koass di RSHS.

Tahun 2009, saya yang masih sendiri dan sedang galau-galaunya beramadhan di Kairo. Tepat sebulan. Terbang dari Jakarta di malam kedua tarawih dan pulang di malam takbiran. Mesir sat itu masih zaman Husni Mubarak. Suasana malam-malam di Kota Kairo sungguh semarak dari mulai buka hingga sahur, justru di siang hari sepi dari aktivitas. Selain Kairo juga sempat bekunjung ke Alexandria. dan Video Clip ini selalu mengingatkan saya pada kairo, karena selalu diputar di TV-TV Mesir pada Ramadan 1430 H itu.

Lebih ke belakang lagi, Ramadhan-Ramadhan tersebut saya jalani sebagai pelayan masjid Salman, suatu privilise yang dimiliki oleh para penghuni Asrama Salman, mulai dari membagikan tajil, mengumpulkan uang kencleng, bebersih, hingga menyiapkan lapangan CC ITB untuk digunakan shalat ied.

Dan dari semua Ramadhan itu, alhamdulillah yang selalu berkesan adalah itikaf di hari-hari sepuluh yang terakhir. Di situlah stasiun pemberhentian kita. Mereorientasi tujuan kita. Mengkalibrasi ukuran-ukuran kehidupan kita. Dan mereparasi hal-hal yang berserak dari jiwa dan ruh kita.

Dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain ibarat sebuah etape dalam suatu perjalanan, yang kita tidak pernah tahu berapa etape yang akan kita tempuh. Yang kita tahu hanya, di etape itu berbuat lah yang terbaik; sebagai ‘ibad juga sebagai khilafah. Yang dicari dari etape itu, ialah keberkahan, kasih sayang Allah, dan kebermanfaatan bagi sesama sesuai peran-peran yang dianugerahkanNya kepada kita.

Semoga Ramadan kali ini bisa berkah dan diterima. Sambut dan rayakan Ramadan agar menjadi Ramadan kita yang terbaik, sebab boleh jadi ini adalah yang terakhir.

-Ramadan Kareem-
Rihan Handaulah & Nada Ristya Rahmani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 18, 2015 by in Uncategorized.

Navigation

%d bloggers like this: