Angin

To run where the brave dare not to go

Mengapa Angin

Ia adalah angin. Ia adalah sebuah kata di dalam Al Quran. Rihan artinya angin. Hingga saat ia menulis ini, ia belum mengerti betul kenapa kedua orang tuanya yang mulia memberinya nama: angin. Tapi biarlah, ia bangga dengan namanya, angin. Karena angin ialah pembawa rahmat. Tuhannya berfirman dalam salah satu kalam-Nya bahwa Ia meniupkan angin yang menggerakan awan. Maka turunlah hujan yang menjatuhkan air ke bumi dan seluruh kehidupannya. Dari air kehidupan dimulai. Dengan air tumbuhan berfotosintesis yang menjadikannya selalu tuntas manunaikan perannya sebagai dasar piramida kehidupan. Dari anginlah rahmat Allah swt bermula.

Di ayat lain, dengan angin pula Ia mengazab para pembangkang. Manusia-manusia bebal yang tak tahu diuntung seperti kaum ‘ad dan tsamud yang slah satunya dibinasakan dengan angin kering. Angin yang menjadikan mereka seperti tumbuhan-tumbuhan yang mati. daun kering berguguran. Inilah tafsir terbainya tentang do’a orang tuanya yang ditiupkan atas namanya. Agar ia, angin, menjadi rahmat. Dan agar ia, angin, menjadi azab.

Angin itu kini masih terserak. Ia masih mengguntai, menggapai, meraih dan menggapai keping-keping dan serakan-serakan dirinya. Ia masih berwujud puzzle. Dihadapannya labirin. Seperti lorong yang masih tak tertera ujung pangkalnya. Yang ia punya hanya asa dan tutur. Asa akan akhir dari semuanya, dan tutur yang ia telah berjanji untuk taat padanya dan berusaha untuk selalu mengingatnya dalam setiap helaan napas. Yang ia yakini ialah agar terus bergerak. Karena diam berarti membusuk, mati.

Ia menulis agar keterserakan ini ia kenang. dan agar siapapun mengenang apa yang pantas dikenang. Supaya kenangan-kenangan itu menjadi pembelajaran. Supaya batu-batu mil yang telah ia lewati juga menjadi pengingat bagi siapapun. Karena menulis baginya adalah bekerja untuk keabadian. Amalnya abadi. Kenangan yang abadi. Kebaikan abadi yang terus mengalir.

Kepada Allah yang maha pemurah dan pengampun ia memohon.

 

Catatan yang ditulis Oct, 14, 2008:

#1

Saat aku tahu
Kemana nafas ini harus kujual.
Ke sana lah ku hendak melangkah
Ku tahu jalan amat panjang lagi menyakitkan yang mesti ku lalui
Bukan fatamorgana di sana
Ku cium semerbak raihan dari sini

Tidak tercium lagi amis darah dan debu bercampur mesiu
Dahaga dan perih yang kurasakan di sini
Yang kujual untuk seteguk air dari telaga kautsarMu
Aku tahu
Aku bersaksi ini semua adalah haq

Badarkanlah diri ini,
uhudkanlah nafas ini,
khandaqkanlah ruh ini,
khaibarkanlah raga ini,
tabukkanlah qalbu ini,
mut’ahkanlah darah ini

Niscaya tiada sezarah pun di dada ini kegentaran selain padaMu
Telah berlalulah jasad manusia-manusia langit
Tetapi demi Allah, mereka masih hidup!
Merekalah saksi bagi manusia dan alam semesta
Dan tidaklah hidup ini indah kecuali kehidupan mereka

#2

Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri
Dia akan hidup sebagai orang kerdil
Dan mati sebagai orang kerdil

Tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain
Dia akan hidup sebagai orang besar
Dan wafat sebagai orang besar

Wahai Saudaraku, engkau merdeka dibalik jeruji
Wahai Saudaraku engkau merdeka walau terkungkung
Jika engkau bersandar kepada Allah
Maka bagaimana mungkin engkau terganggu oleh konspirasi hamba sahaya kezaliman

Saudaraku, engkau akan mengenyahkan kabut kezaliman
Dan fajar baru akan menyiratkan sinar terang di alam ini
Maka biarkanlah ruhmu terlepas menemui kerinduannya
Sehingga engkau melihat fajar lebih terang dari jauh

Saudaraku, apakah engkau terlihat bosan dengan berjuang
Dan menyimpan senjata tergolek begitu saja
Maka siapa lagi yang akan mengobati segala luka
Dan mengibarkan bendera kemenangan lagi?”

Saudara!
Seandainya kau tangisi kematianku
Dan kau siram pusaraku dengan airmatamu
Maka di atas tulang-tulangku
yang hancur luluh
Nyalakan obor buat umat ini
Dan
Teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Saudara!
kematianku adalah suatu perjalanan
mendapatkan kekasih yang sedang merindu
Taman-taman di syurga Tuhanku bangga
menerimaku
Burung-burung berkicau riang menyambutku
Bahagialah hidupku di alam abadi

Saudara!
Puaka kegelapan pasti akan hancur
Dan alam ini akan disinari fajar lagi
Biarlah rohku terbang mendapatkan rindunya
Janganlah gentar berkelana di alam abadi
Nun di sana fajar sedang memancar

(Sayyid Quthb)

12 comments on “Mengapa Angin

  1. 37degree
    October 22, 2008

    blognya direvisi ya?

    selamat!
    tetaplah berhembus🙂

  2. Muhammad Rihan Handaulah
    October 22, 2008

    ya..

    makasih

  3. dian
    October 24, 2008

    wow! deep!🙂

  4. fani ferdiana
    November 15, 2008

    Nama = Do’a

    Tetaplah berhembus (hehe, mengutip kt Ajeng) karena angin selalu bergerak kemanapun ia inginkan.

  5. fani ferdiana
    November 15, 2008

    eh, lupa. ijin nge-link blog Rihan ya

  6. yasrid
    February 9, 2010

    Bagus!!

  7. ekam.dwipanji
    February 26, 2010

    punten

  8. agree_grey
    June 11, 2010

    sebuah pemaknaan yang keren….
    semangat untuk terus berbuat kebaikan!

  9. Zuraidah Abi Ramadhani
    May 14, 2013

    SubhanAllah..
    Angin adlah hal yg sering ada..tpi bnyak ketidak tahuan manusia ttg penciptaan angin yg membawa rahmat.. ;(

  10. bambang
    August 16, 2014

    Angin bisa bikin geger sekampung A…(maaf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: